Minggu, 25 Desember 2016

Siapa Kalian, Dimana Kalian???
Oleh: Dyah Ayu Qori Fauziah[1]
Akhir-akhir ini saya terhipnotis dengan kata “achievement”. Melihat ada pengumuman tentang adanya pendaftaran menjadi trainer AMT (Achievement Motivation Training) untuk mahasiswa angkatan 2012. Sebenarnya tergelitik dengan kata achievement sudah agak lama, 6 bulan yang lalu ketika saya mengkuti seleksi Aiesec Internship Expand UNS. Sedikit bercerita, saya diwawancarai oleh tim seleksi mengenai achievement, dan saya bingung menjawabnya. Achievement??? Apa sih? Emang saya telah berhasil melakukan apa? Mengorek-ngorek informasi dari memori terjauh, mungkin ketika saya kecil samapai detik saya ditanya oleh mereka. Saya hanya bisa menjawab, “IP yang hampir sempurna 3,9”.
Apakah Achievement itu??
Achievement test a standardised test for measuring the skill or knowledge by person in one more lines of work a study (Webster’s New Internasional Dictionary, 1951 : 20). Mempunyai arti kurang lebih prestasi adalah standart test untuk mengukur kecakapan atau pengetahuan bagi seseorang didalam satu atau lebih dari garis-garis pekerjaan atau belajar. Dalam kamus populer prestasi ialah hasil sesuatu yang telah dicapai (Purwodarminto, 1979 : 251)[2]. Sejak saat itu, saya berpikir, jadi ternyata sedikit sekali achievement dalam hidup saya. Padahal saya sudah 20 tahun. Sangat mengenaskan. Kalau kalian tahu, terkadang ada rasa menghina diri sendiri, “ih, buat apa kuliah di fakultas hukum kalau ternyata hanya segini pencapaian saya, sebiji jagung”
Dari fakta-fakta tersebut saya menyadari, ternyata saya hanya berani bermimpi, tidak ada kepercayaan, dan tidak aktivitas untuk membuatnya menjadi kenyataan. Saya ingin, bisa pertukaran mahasiswa ke luar negeri, tapi sebatas keinginan atau bahkan mimpi di siang bolong, kalau saja hanya seperti ini usaha saya. Usaha rata-rata, seperti orang pada umumnya. Padahal, mengutip kata-kata Agnes Monica, “Kalau mau sukses, saya harus berusaha 300-500% lebih banyak dari orang-orang pada umumnya.” Dan, lagi-lagi kalimat yang hebat itu hanya mampu merangsang saya hingga tingkat bermimpi. Entah, mungkin karena saya terlalu malas atau takut melangkah atau sudah terlalu terlambat. Sekian detik sepertinya adalah sia-sia kalau saya tetap begini, parah sekali hidup saya. Hanya meminta uang setiap minggu ke orang tua, lalu mengahbiskannya untuk sekedar hobi kuliner, kuliah, main game, atau jalan-jalan. Dalam kondisi seperti itu sebenarnya saya menyadari, “useless banget ya saya” hanya bisa meringis.
Kita lihat orang-orang hebat di dunia ini, seperti Albert Einstein yang menyatakan “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan karena imajinasi tidak terbatas”. Memulai berimajinasi, setiap hari, tentang cita-cita, impian, masa depan, prestasi, karir, pekerjaan yang kita inginkan. Mengutip kata motivasi dari Agnes Monica lagi “Dream, Believe, and Make It Happen”. Kalau kita sudah percaya, dengan sewndirinya kita akan melangkah sesuai dengan kepercayaan kita. Mislakan saja, saya bermimpi menjadi lulusan Fakultas Hukum UNS dengan IPK Cumlaude, dan kita percaya hal itu, maka, dengan sendirinya langkah-langkah kita akan mengarah ke mimpi dan kepercayaan kita.
Namun, tak semudah itu juga, saya sendiri adalah orang yang sedang berusaha untuk percaya pada mimpi saya. Kini, selangkah demi selangkah saya berjalan dengan pasti ke arahnya. Arah yang semakin terang dan semakin jelas. Walaupun terkadang untuk berjalan ke arah mimpi saya tersebut banyak rintangannya, termasuk yang paling sulit adalah godaan dari dalam diri maupun lingkungan sekitar. Malas, ya itulah yang sering membuat saya merasa berjalan di tempat. Dan ternyata rasa malas itu tak hanya timbul dari dalam diri saya sendiri, tapi juga karena pengaruh. Setipa orang harus mempunya rasa “sadar diri” untuk bisa mempersandingkan impian dan cita-cita dengan apa yang telah dikerjakannya. Umpamanya, si X mempunyai mimpi ingin mempunyai hidup yang mapan, dan kemudian bisa pergi keliling dunia kemanapun ia suka. Namun, jika yang dilakukan hanyalah bangun tidur terlambat, malas belajar, tak pernah beriteraksi dengan orang-orang di luar, tidak mempunya jaringan pertemanan, lalu bisa bayangkan bagaimana si X bisa sampai ke tujuannya yaitu keliling dunia???
Kenapa saya ingin menjadi trainer?? Tak mudah seseorang bangkit, berdiri, dan berjalan menuju apa yang dia cita-citakan. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman dan pengetahuan saya bagaimana saya bangkit dari titik nol keterpurukan dalam hidup saya. Ketika saya kuliah awal semester 3, belum lama ini. Saya hampir mati ketika itu. Ketika saya berteman dan beraktifitas dengan orang-orang yang “tak tepat”, bukan orang-orang yang “salah” tetapi hanya saja tidak tepat. Jiwa muda yang bergejolak memang harus diwadahi dengan tempat dan lingkungan yang tepat, kalau tidak bisa terjatuh dan tak mudah untuk bangkit. Saya ingin berbagi bagaiman cara saya bisa bangkit, bisa berdiri, dan bisa diakui oleh lingkungan orang-orang yang hebat, saya ingin berada dalam lingkaran orang-orang hebat. Saya yakin, begitu juga kalian. Adakah dari kalian nyang tidak ingi menjadi orang hebat? Adakah dari kalian yang hanya berani bermimpi kecil, cukup ingin menjadi teller bank atau pegawai biasa misalnya. Dan ternyata masih banyak yang seperti itu, teman dekat saya sendiri contohnya. Kalau imajinasi itu tak terbatas, mengapa hanya bermimpi kecil?? Seberapa besar motivasi yang kalian butuhkan untuk menghasilkan hal-hal yang nyata yaitu perwujudan mimpi dan cita-cita kalian.
Seseorang yang memiliki motivasi yang tinggi mempunyai ciri-ciri:
a) Lebih mengharapkan sukses
b) Lebih percaya diri sendiri dalam menghadapi tugas
c) Cenderung menyederhanakan kesulitan dalam menghadapi tugas
d) Tidak senang membuang waktu
e) Kokoh pendirinannya dalam menyelesaikan tugas
f) Memiliki kemampuan lebih dari individu lain.[3]
Bicara soal mimpi dan imajinasi, manusia punya pikiran, pikiran yang diproses dalam otak, dan matang menjadi tindakan. Jadi, kalau ada orang yang bertindak sembarangan, sebagian besar orang mengatakan “ooo, tidak punya otak dia”. Dengan mengenali otak, membuka ruang potensi dalam diri kita. “Otak mengatur semua fungsi tubuh; otak mengendalikan perilaku kita yang paling primiti – makan, tidur, menjaga agar tubuh tetap hangat; otak bertanggungjawab untuk kegiatan yang paling canggih – penciptaan peradaban, musik, seni, ilmu, dan bahasa. Harapan, pikiran, emosi, dan kepribadian semuanya tersimpan - di suatu temapat – di dalam sana. Setelah ribuan ilmuan mengkajinya, satu-satunya kata untuk menggambarkannya adalah “MENAKJUBKAN” (Profesor Ornstein, pengarang The Psychology of Consciousness)[4]. Kemudian, apa potensi dari otak kalian yang bisa kalian kembangkan menjadi kekuatan maha dasyat??? Seorang penulis terkenal, seorang dokter hebat, seorang perancang busana internasinal, atau seorang fisikawan yang pandai??? Itu pilihan kalian.
Lalu timbul pertanyaan “bagaimana dengan orang yang selalu berkata ‘saya bodoh, saya gak bisa, saya tak punta bakat,dll”. Banyak sekali melihat fenomena anak-anak, remaja, pemuda sekarang berkata demikian menyedihkan. Ternyata saya, tak cukup kuat untuk memberikan motivasi supaya tidak ada pemikiran yang demikian, hanya dengan ucapan yang bernada mengarahkan, mendikte, atau meberi petunjuk (seperti orang hebat saja, hehe). Ya, saya harus bertindak lebih, saya harus menunjukkan “inilah achievement dalam hidup saya, inilah penghargaan dalam hidup saya, inilah harapan, doa, dan pujian dari orang atas prestasi saya”. Semua itu bukan untuk sombong atau pamer, tapi untuk memotivasi (bak, motivator handal saja, hehe). “Saya pernah jatuh, bahkan lebih buruk dari yang kalian bayangkan, tetapi saya sekarang berada disini, inilah saya dan peran saya disini di Fakultas Hukum UNS! Siapa kalian, dimana kalian???”


[1] Mahasiswi Fakultas Hukum UNS Angkatan 2010
[2] http://belajarpsikologi.com/pengertian-prestasi-belajar/
[3] http://www.scribd.com/doc/33232192/Motivasi-Berprestasi-Achievement-Motivation
[4] Tony Buzan. Buku Pintar Mind Map. 2007. Hlm: 24.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar